Buah Maja, Berenuk Tanaman Langka dan Bersejarah

Buah Maja Berenuk Bersejarah

Sebenarnya ada Ada dua jenis tanaman bernama maja. Pertama adalah maja bael (Aegel marmelos), kedua maja berenuk (Crescentia cujete).

Maja atau sering disebut oleh orang sunda adalah buah berenuk merupakan tanaman asli Amerika Tropis, dahulu dibawa masuk ke Indonesia karena dibawa oleh bangsa Portugis dan Belanda. Habitat asli maja bael tersebar tersebar mulai dari Asia Sepatan (Pakistan, India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh), dan Asia Tenggara (Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kambodja, Malaysia, Filipina dan Indonesia). Maja bael juga disebut bilva, bilwa, bel, kuvalam, koovalam, madtoum, beli fruit, bengal quince, stone apple, atau wood apple.

Di pu;au Jawa sendiri, tanaman maja bael tumbuh di dataran rendah, terutama di kawasan yang beriklim sangat kering. Kawasan sekitar Mojokerto (lokasi bekas kerajaan Majapahit) merupakan habitat maja  bael.  Meskipun  ada  dua  tanaman  yang  disebut  maja,  selama  ini  yang  dikenal masyarakat luas sebagai buah maja hanya buah berenuk, yang kadang disebut brenuk, atau bernuk (calabash tree, huingo, krabasi, kalebas). Ada tiga spesies berenuk, yakni Crescentia cujete, Crescentia alata, dan Crescentia portoricensis. Semuanya merupakan tanaman asli Amerika Tropis. Yang banyak tumbuh di Indonesia sebagai tanaman pagar hanya Crescentia cujete.

Karena maja bernuk baru ada di Jawa setelah dibawa Bangsa Potugis dan Belanda, paling capat pada abad XVI, tidak mungkin tumbuhan ini yang menjadi asal usul nama Majapahit. Selama ini masyarakat mengira, maja berenuk yang buahnya beracun dan rasanya pahit inilah yang disebut-sebut sebagai asal-usul nama Majapahit. Waktu Raden Wijaya membuka tanah tarik, dibantu oleh Adipati Sumenep Aria Wiraraja, para pekerja kehausan dan memetik buah maja, lalu memakannya. Karena buah maja itu berasa pahit, maka kerajaan itu pun disebut Majapahit.

Maja yang tumbuh di Tanah Tarik yang menjadi Kerajaan Majapahit, pasti maja bael, bukan maja berenuk. Tidak jelas, mengapa maja bael yang seharusnya berasa manis itu diceritakan berasa pahit. Maja berenuk memang berasa pahit, bahkan beracun hingga daging buahnya merupakan bahan pestisida nabati. Tanaman ini diperbanyak dengan setek cabang, dan akan berbuah pada umur 3 tahun setelah tanam. Maja berenuk lebih banyak ditanam sebagai pagar, pohon peneduh dan elemen taman, karena keindahan tajuk beserta buahnya.

Pada saat berbuah itulah maja berenuk memperlihatkan keindahannya. Buah sebesar bola akan muncul bergelantungan mulai dari ujung cabang sampai batang pokok. Tanaman ini banyak membuat dejak kagum para pengunjung Taman Wisata Mekarsari. Selain untuk pestisida,  daging  buah  maja  berenuk  dapat  dimanfaatkan  sebagai  pupuk  organik,  dan pengusir hama seperti Tikus. Kulit buahnya yang keras seperti tempurung kalapa dimanfaatkan untuk perkakas rumah tangga seperti gayung air, takaran beras, serta tempat menyimpan aneka biji-bijian.

Beda dengan maja berenuk yang pahit, maja bael berasa manis dengan aroma harum. Di India, Srilanka dan Bangledesh, maja bael merupakan bahan minuman serbat. Pucuk tanaman juga  biasa  disayur.  Pohon  maja  bael  biasa  ditanam  di  halaman  pura.  Sebab  maja  bael dipercaya sebagai penjelmaan Dewa Syiwa. Buah maja bael juga merupakan salah satu syarat upacara pernikahan adat Hindu, sebagai simbol pengantin pria. Hingga pengantin wanita, sebanarnya menikah dengan Hyang Syiwa sebagai pengantin laki-laki. Ketika ia dicerai, atau suami meninggal, perempuan itu tetap menjadi istri Hyang Syiwa.

Meskipun buah ini sudah jarang ditemukan akan tetapi mungkin masih banyak juga di daerah daerah ternteu yang memang masih tumbuh. Selain itu juga sebenarnya tanaman maja ini banyak juga digunakan oleh sebagian orang untuk memanfaatkan dari sisi buah atau bahkan pohonnya. tulah seputar pembahasan terkait tanaman Maja atau Berenuk, semoga artikel ini bisa menamabh pengetahuan untuk temen temen semua.

0 Comments

Posting Komentar